Catatan Terakhir Untuk Dirinya

Sekitar tujuh bulan lalu, anda mungkin membaca salah satu postingan yang tidak terlalu “unyu”, tapi mungkin membuat anda bertanya-tanya tipe pria macam apakah saya ini. Sekarang, kisah pahit-asam-manis tersebut harus saya buang jauh-jauh. Ya, semudah itulah anda menceritakan saat-saat bahagia, tapi saat berpisah anda tidak seharusnya melakukan gerilya-gerilya yang tidak penting sebagai proklamir  berakhirnya cerita manis anda. Saya menulis ini, bukan tanpa perasaan sedih, tapi disini pikiran saya telah terbuka, bahwa cinta tidak perlu anda cari, tapi dia akan menghampiri anda dengan sendirinya. 

Ternyata, saya akhirnya menyadari, bahwa “feeling” saya, sangatlah kuat kepada satu orang wanita lain, bukan dirinya. Saat wanita itu sedih, saya bisa merasakkannya juga. Saya harusnya tidak mengkoarkan ego saya dan mentasbihkan diri saya sebagai manusia individualistis. Begitu bodohnya sampai-sampai bisa jadi seperti ini. Untungnya, tidak ada kata terlambat untuk cinta yang sesungguhnya. Semoga saya bisa lebih bahagia tanpa dirinya, dan dia juga saya harap begitu.

“Terima kasih untuk waktu yang sebentar ini, semoga kamu bahagia dengan siapapun pilihan kamu, sekarang aku mau mengejar dia, cinta yang sesungguhnya. Maafkan semua kesalahanku, maju terus kedepan jangan pedulikan aku lagi. Saat kamu sudah bahagia, aku akan melihat dan berdoa untukmu. Selamat tinggal” 

Kucoba pejamkan mata, saat aku termenung, di sepinya hari, tanpa dirimu.

Kusadari, kau tidak disini lagi, tapi terima kasih, untuk semua yang kau berikan.

Apa yang kucari, ternyata bukan dirimu, bukan kau yang seharusnya ada, kau tercipta bukan untukku, begitupun aku.

 

Published in: on April 22, 2012 at 12:44 am  Leave a Comment  

Love Isn’t Universal

Seorang teman pernah berkata seperti ini kepada saya :

“Lo ngapain sih pacaran dibawa serius gitu? Lo masih muda, masih SMA bego, ngapain cuman stuck di satu cewek?’

Dan saya hanya menjawab begini :

“Yaelah, kalo ga dari sekarang serius, bisa-bisa ntar gua kaga punya bini coy”

Well…

Jatuh cinta. Ini adalah sepasang kata yang banyak mengubah banyak orang di dunia ini. Ketika anda sedang jatuh cinta, rasanya pasti macam-macam. Ada yang senang cintanya berbalas (kayak saya), ada yang galau karena cintanya mengambang antara iya dan tidak, ada yang sedih karena cintanya ditolak mentah-mentah, ada yang cenat cenut karena takut ketauan nikung temennya sendiri, banyak lah pokoknya. Pertanyaannya adalah, apakah di belahan dunia lainnya, mereka mengenal jatuh cinta sama seperti apa yang kita lakukan? Tampaknya mereka pun mengenali jatuh cinta sama seperti yang kita kenal, namun mungkin cara ngalusnya yang beda dari kebanyakan orang Indonesia. Rata-rata orang Indonesia ngalus melalui social network yang marak di internet, atau lewat BlackBerry Messenger. Saya yakin dan percaya, bahwa metode pengalusan di belahan dunia manapun hampir mungkin berbeda. Perbedaan disini didasari karena adanya perbedaan adat, budaya, kultur. kepercayaan, dan lainnya. Nah, disitulah letak perbedaannya.

Sebetulnya, saya sendiri masih tidak mengerti apa itu cinta. Apakah cinta ibu kepada anaknya dan cinta suami kepada istrinya itu hal yang sama. Saya pikir hal itu jauh dari kata sama. Cinta ibu kepada anaknya didasari oleh kasih sayang yang tulus dan benar adanya. Bahkan hingga kelak nanti sang anak sudah tidak membutuhkan sang ibu saat menghadapi dunia ini, cinta ibu tidak lekang oleh waktu sama sekali. Berbeda dengan cinta suami kepada istri, yang mungkin suatu saat akan dilanda kebosanan. Masalah-masalah yang datang mungkin saja akan mengurangi dan menguras cinta keduanya satu sama lain, bahkan mungkin akan memisahkan keduanya dan menghancurkan masa depan anak-anak mereka. Jadi, cinta ibu dan cinta suami jelas berbeda. Be e de a, BEDA.

Jelas sekali dalam mengarungi cinta bersama pasangan anda, tidak ekuivalen dengan cinta anda bersama anak anda. Sebenarnya dimanakah perbedaannya? Saya pernah membaca cinta itu ada yang ber unsur nafsu semata dan ada yang ber unsur perhatian dan menjaga. Tetapi apalah artinya itu di jaman yang makin gila ini. Ada kasus sinting dimana cinta yang harusnya ber unsur perhatian dan menjaga, digabung dengan nafsu binatang manusia jahanam. Hasilnya? Bapak menghamili anaknya sendiri. Tidakkah itu sangat sinting? Abnormal? Diluar nalar? Bahkan binatang pun takkan  mem”buahi” anaknya sendiri. Sungguh gila. Saya tak habis pikir mengenai itu. Bukankah anak itu adalah titipan untuk anda? Hasil perbuatan anda dan pasangan anda? Tidakkah anda mengetahui bahwa masa depannya yang cerah itu telah menunggunya untuk diraih dan digenggam dalam sisa usianya kelak telah anda hancurkan lewat perbuatan “8 Jam untuk Selamanya” yang anda lakukan. Kacau sekali ini.

Sebenarnya kodrat cinta yang sesungguhnya menurut saya adalah dimana seseorang merasa adanya sebuah bentuk kasih sayang yang dibungkus dengan hangatnya kebersamaan yang memberi kebahagiaan. Semua makhluk hidup merasakan cinta, setidaknya walaupun hanya sedikit. Jangan mengharapkan sesuatu yang berlebihan dari sekadar ‘cukup’, karena apa yang anda harapkan sering sekali jauh dengan apa yang akan anda dapatkan. Apalagi anda menaruh harapan kepada sesama homo sapien yang kerjaannya hanya menghancurkan dunia yang sudah hancur-hancuran ini, maka anda silahkan bersiap-siaplah untuk kecewa. Tuhan saja sering mengecewakan harapan-harapan anda, apalagi manusia yang tidak pernah bersyukur untuk mensyukuri keadaannya itu. Saya pun amat sangat sering mengecewakan orang-orang di sekitar saya. Tetapi, yang perlu anda lakukan untuk itu hanyalah memecahkan cermin kemunafikan dan belajar untuk mengoreksi diri anda sendiri dari setiap kesalahan yang anda buat. Toh, manusia memang tempatnya salah, akan tetapi Tuhan tidak bersalah apa-apa dalam penciptaan manusia.

Cinta yang mengecewakan memang perih dan tidak main-main sakitnya. Apabila anda merasa dunia milik anda saat anda jatuh cinta, maka saat anda patah cinta dunia itu akan membuang anda dan mencari pemilik lain untuk memilikinya. Cinta itu menyakitkan memang. Tidak ada kemungkinan 100 persen cinta anda seperti kisah dongeng, yaitu “Happily Ever After” atau “Hidup Bahagia Selamanya”. Saya berani bertaruh apa saja jika ada manusia yang perjalanan cintanya mulus saja bahagia selamanya tanpa ada masalah sama sekali. Percuma anda menjalin hubungan tanpa adanya perselisihan, karena itulah yang membuat anda lebih kuat nantinya. Membuat anda lebih tegar kedepannya. Dan membuat anda belajar dari kesalahan yang anda perbuat, sebagai bekal anda menuju kedepannya. Cinta tidaklah sama rasanya, tidaklah universal. Tetapi itu adalah hak setiap manusia untuk mencintai dan dicintai. Jangan takut jatuh cinta, karena jatuh cinta itu nikmat yang menyiksa anda perlahan.

Love is not universal. Our diversity that makes our love. Our diversity that makes our love. Our diversity that makes our love.

Each other.

It’s our duty to made that diversity being one. One love. L-O-V-E

Love is not universal, every person doesn’t feel it same way.

But it’s our rights for being loved.

Each other.

Published in: on January 25, 2012 at 10:33 pm  Leave a Comment  

#2012WishList

Selamat tahun baru 2012 untuk para manusia kurang kerjaan yang mau saja merelakan waktu berharganya demi membaca tulisan tidak jelas yang tidak bermakna dan mencoreng garis-garis harmoni dalam tata cara menulis (saya pun tidak mengerti maksud kata-kata itu apa, hanya membuat saya terlihat pintar (atau malah bodoh?) di depan anda). Tetapi terima kasih berkat anda yang suka kepoin blog saya, saya jadi termotivasi untuk kembali menghidupkan blog yang sekarat ini (thanks to Semi Kurniasih atas tweetnya!). Maafkan saya jika tulisan-tulisan saya menyesatkan hidup anda. Welcome 2012!

Berikut ini saya akan memaparkan beberapa harapan, keinginan, kepengenan, kemauan, atau apalah itu. Jika anda menemui beberapa kesamaan dalam wish list berikut ini dengan harapan anda, maka anggaplah itu hanya kebetulan belaka. Jadi anda tidak perlu merasa ge-er atau gembira atau menunjukkan bentuk kesenangan yang berlebihan ditunjukkan oleh anda, karena percayalah kepada saya, sesuatu yang berlebihan itu sama sekali tidak baik. Oke saksikan sajalah harapan-harapan norak saya di tahun 2012 ini…

1. Kenaikan Uang Jajan

Yap ini poin pertama dan cukup penting buat saya, karena ini menyangkut masalah ekonomi dan bisa mengancam kelangsungan hidup saya di muka bumi ini. Saya cukup berbahagia dengan uang jajan yang di berikan oleh orang tua saya sekarang ini, akan tetapi alangkah lebih baik jika dinaikkan beberapa rupiah begitu. Apa salahnya jika membahagiakan anak sendiri? ya kan?

2. Mendapat Nilai Bagus

Poin kedua menyangkut masa depan saya yang berharga, yaitu mau dibawa kemanakah kaki ini melangkah selanjutnya setelah lulus? Teorinya gampang saja. Jika nilai saya bagus, maka masa depan saya cerah. Dan jika nilai saya jelek, maka masa depan saya suram. Pada prakteknya, saat penerapan teori diatas anda akan  menemukan banyak sekali kesulitan. Lalu? No comment…

3. Mencari Arti Kehidupan

Yang ini menyangkut aspek spiritual saya. Saya tidak berusaha mencari kesempurnaan dalam perjalanan rohani saya, tetapi sekarang saya hanya berharap bisa mendapatkan arti kehidupan, entah di langkah yang keberapa dalam hidup saya di tahun 2012 ini. Yang bisa menyadarkan saya sebelum saya terlambat nantinya.

4. Mencintai dan Dicintai

Love isn’t about counting the year, but makes the year count – Anonymous

5. Gajadi Kiamat

Poin ini lebih penting dari poin yang paling penting diatas. Ya, anda pasti tahu. Tahun 2012 ini merupakan tahun yang kontroversial dimana banyak manusia yang beropini bahwa tahun ini merupakan tahun kehancuran umat manusia. Well… terlepas dari masalah percaya atau tidak percaya, disini saya hanya coba mengingatkan anda, bahwa kekuatan pikiran/sugesti itu bisa menghapus segala akal sehat yang anda miliki. Jadi, kiamat bisa saja terjadi karena anda terus-terusan mensugesti pikiran anda bahwa 21 Desember 2012 adalah hari kiamat. Dan percayalah, kekuatan pikiran itu efeknya sangat hebat bagi hidup anda.

Itu dia 5 harapan terbesar saya di tahun 2012. Sebenarnya seperti yang pernah saya katakan, mimpi saya itu sangat sangat sangat banyak sekali. Begitupun harapan saya. Tetapi secara garis besar, inilah sesungguhnya apa yang saya harapkan bisa terjadi di tahun yang baru ini. Semoga anda juga memiliki harapan anda masing-masing dan tetap berusaha untuk mewujudkan itu. Selamat malam.

“Sesungguhnya, apa yang perlu dilakukan makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpinya hanyalah tinggal mempercayainya” -5cm.

“You might say I’m a dreamer, but I’m not the only one” -John Lennon

Published in: on January 8, 2012 at 7:43 pm  Leave a Comment  

Catatan Untuk Dirinya

Bagaimana jarak yang jauh tidak ada pengaruhnya sama sekali dalam pertemuan dua orang yang kelak mengikat janji satu sama lainnya? Bagaimana jurang yang begitu membentang memisahkan, malah menyatukan dua orang tersebut kelak? Segalanya bagaikan skenario yang sudah diatur oleh yang diatas. Semua yang tampak tidak mungkin, tiba-tiba malah menjadi kenyataan. Akhirnya toh kalau memang di takdirkan untuk bersama, pasti akan bersama kelak nantinya. Seberat apapun itu disana. Tak perduli seberapa jauh jarak yang memisahkan, tak perduli seberapa dalam jurang tersebut, tak perduli seberapa tinggi tebing disana, semuanya tidak berarti apapun buatku…

Pria ini hanyalah manusia yang sangat biasa. Dirinya tidak merasa memiliki apapun atau memiliki kelebihan yang bisa di tonjolkan. Kerjaannya hanya berkoar dan mengumpat, seakan-akan hidupnya hanya untuk bersenang-senang saja. Ia memiliki nilai akademis yang cukup, biasa saja, malah agak sedikit kurang. Prestasi non akademisnya nihil, nol besar. Tidak ada piala yang ia persembahkan sebagai pajangan, baik di rumahnya maupun (apalagi) di ruang kepala sekolahnya tercinta. Secara keseluruhan, ia hanya beruntung bisa bertahan hidup di dunia yang makin tidak jelas ini.

Wanita ini lebih baik segala-galanya dari pria cacingan diatas. Ia dikaruniai kepintaran yang cukup besar. Kemampuan akademisnya diatas rata-rata. Keberaniannya sebagai seorang wanita juga patut di acungi jempol. Ia sangat baik di hadapan teman-teman yang di sayanginya, tetapi santun di depan bapak dan ibu guru yang di hormatinya. Wanita ini tampak sangat sempurna dari berbagai sudut pandang.

Awal pertemuan kedua manusia tersebut terjadi saat secara tidak sengaja harus satu kelas selama satu tahun. Mereka tidak pernah saling mengenal dekat, cukup sebatas mengetahui nama satu dengan yang lainnya. Sang pria sebenarnya cukup tertarik kepada wanita tersebut, tetapi takdir belum mengizinkan mereka terikat menjadi satu sejoli. Jadi, rasa tersebut di buang jauh-jauh oleh sang pria. Sampai akhir tahun, mereka bahkan tidak pernah terlibat percakapan panjang yang seru. Kadang kala, tanya menyanya pekerjaan rumah menjadi media mereka untuk berkomunikasi. Tetapi sayang, itu semua hanyalah percakapan instan yang tidak intens. Seolah-olah mereka memang tidak di takdirkan untuk bersama.

Suatu ketika, sang pria mendapat masalah besar yang sudah tidak bisa di selesaikan lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Mungkin, semua ini seperti bumerang. Rasa yang telah di lempar jauh-jauh, ternyata berbalik lagi mengenai sang pria itu. Tidak butuh waktu lama bagi sang pria untuk mulai mencintai wanita tersebut. Tetapi, bagaimana harus memulai jika tidak pernah terlibat dalam suatu komunikasi yang intensif? Pilihan-pilihan yang tersedia pun tampaknya hanya menyulitkan sang pria. Walaupun rasa itu telah kembali, tetapi jarak di antara mereka berdua di rasa sudah amat renggang dan jauh. Kemungkinan untuk tumbuh rasa yang sama pada wanita itu amatlah kecil. Tapi sayangnya, pria bodoh yang mungkin akan menjadi lebih bodoh kalau tidak pernah mencoba berusaha itu malah semakin mencari-cari jalan untuk mendekati wanita itu. Melalui sindiran-sindiran halus, amat di sayangkan sang wanita tidak pernah menyadari kalau itu semua untuk dirinya.

Hampir putus asa, sang pria tidaklah patah arang. Setelah semuanya tidak ada yang berhasil, ia memutuskan menggunakan jasa orang ketiga atau Matchmaker atau Mak Comblang. Setelah berbagai fase yang cukup menyulitkan, setelah hubungan kedua orang diatas tersebut mengalami masa-masa lebih baik dari sebelumnya, akhirnya mereka bisa memasuki tahap komunikasi yang intensif. Tanpa di duga-duga oleh sang pria, wanita idamannya merespons dengan cukup baik. Percakapan mereka berdua mengalir begitu saja tanpa adanya paksaan ataupun kepentingan-kepentingan lainnya. Seperti hanya ada mereka berdua terbang bersama menuju langit ke tujuh. Semuanya terasa begitu indah, begitu lembut, dengan bumbu asmara dan percikan cinta yang semakin besar di antara keduanya. Mereka pun benar-benar merasa nyaman satu sama lainnya.Bagi sang pria, mungkin inilah hal yang paling membahagiakan untuknya. Seperti mimpi yang jadi nyata. Dan mungkin bagi sang wanita, semua keraguan pada pria itu hilang, lenyap tak berbekas seolah-olah tak ada lagi keraguan baginya untuk menerima keberadaan pria tersebut disisinya kelak.

Kamis, 21 April 2011

Hari itu matahari menjadi lebih terik dari pada biasanya, angin berhembus lebih kencang dari pada biasanya, waktu berputar lebih cepat dari pada biasanya, dan segala yang sebenarnya biasa, tetapi bagi pria ini menjadi hal yang luar biasa. Ia tahu, bahwa hari ini tidak akan seperti hari-hari kemarin. Hari ini, pria itu akan membuat satu langkah besar dalam hubungannya dengan sang wanita impiannya itu. Hari ini… Istimewa.

Semuanya berjalan seperti biasa, seperti layaknya kemarin apa yang di janjikan. Berkumpul di rumah seorang teman, maka hampir semua teman si pria, termasuk sang wanita tersebut datang untuk mengerjakan suatu agenda penting. Bagi sang pria, bukan agenda yang mengganggu pikirannya, tetapi langkah besar yang hendak di buatnya untuk kelanjutan hubungannya bersama sang wanita. Strategi sang pria berjalan mulus, dimana terjadilah keheningan saat berdua.

P  : Tri, gua mau ngomong

W : Apa?

P  : Gua suka sama lo Tri. Gua pengen ngabisin hari-hari berdua sama lo. Gua pengen susah seneng kita selalu bareng-bareng, kita jalanin dan laluin bareng. Apa lo mau tri?

W : Mau banget-banget-banget bo? Hahahahahaha

P  : Iya tri. Gua mau banget-banget-banget

W : Iya bo

Begitulah akhir dari keputus-asaan panjang sang pria tersebut. Akhirnya, wanita yang selalu ada di dalam mimpi-mimpinya, bersedia menemani dan mengarungi lautan cinta yang panjang itu, lautan yang mungkin tidak berujung, mungkin tidak ada akhirnya, mungkin abadi… Semoga saja iya…

For you, 21 words with 1 meaning

Ek Is Lief Vir Jou . Ami Tomake Walobaschi . Je’t Aime . Gosto De Ti . Qanta Munani . Eg Elska Thig . Lakh Tirikh . Mi Aime Jou . Wuo Ai Ni . Tora Dost Daram . Ya Vas Liubliu . Ik Hou Van Jou . Naku Penda . Phom Rhak Kun . Te Quiero . Anata Aishiteimasu . Chanrackkun . Ich Liebe Dich . Ti Amo .

Aku Cinta Kamu

I Love You

Published in: on August 2, 2011 at 5:46 pm  Leave a Comment  

Mimpi Gak Mampu

Saya adalah seorang loser hampir dimana pun saya berada atau hidup disana. Amat sangat sering saya hanya menonton keberhasilan orang-orang di sekitar saya,  sambil mengunyah pop corn dan bertanya dalam hati “kapan bisa kayak gitu ya?”. Yah, setidaknya saya punya barometer kesuksesan menurut saya sendiri. Sukses bukan semata-mata soal materi. Sayangnya, saya tidak bisa munafik soal masalah yang satu ini, bahwa uang itu memang di butuhkan manusia seperti apapun dan dimana pun. Sebagai alat tukar yang sah, banyak sekali hal yang bisa ditukar dengan uang. Bahkan itu impian sekalipun.Ya, mimpi bisa di wujudkan dengan uang. Mimpi saya banyak dan uang saya (sangat) sedikit, mungkin kah bisa mewujudkan mimpi? Paling-paling hanya satu mimpi yang mudah di datangkan dan diwujudkan, yaitu jelas sekali adalah mimpi basah. Ups. Salah. Maaf. Maksudnya bukan seperti itu, tapi kenyataannya berkata begitu. Taulah. Saya juga bingung jadinya. Inti dari intinya adalah, money can buy your happiness. Isn’t wrong or rite? Idk.

Banyak kesempatan yang datang untuk saya dan tersia-siakan begitu saja untuk sesuatu yang tidak berguna buat saya. Tumpukan hal-hal yang penting tapi menyusahkan, tergusur oleh hingar bingar kehedonisan yang sangat menyenangkan. Dunia yang jelek ini berkamuflase menjadi sesuatu yang mengasyikkan sekaligus menyesatkan. Saya korbankan waktu belajar demi bermain Playstation atau online internet yang memang menyenangkan. Hasilnya? 8 nilai tidak tertuntaskan di saat Ulangan dan saya harus mengulang (Remedial). Tetapi, apakah saya pernah merasa menyesal? Tentu saja pernah. Itu lah yang paling saya benci dari sebuah tindakan yang saya lakukan atas pilihan yang didasari egoisme tinggi tapi bodoh  saya. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat. Pertanyaannya, mengapa dia selalu terlambat? Mungkin karena rumahnya jauh, kesiangan, atau karena kemacetan. Alasan terakhir mungkin masuk akal. Sangat masuk akal malah …

Kemacetan sering kali membuat suatu keterlambatan, termasuk dalam urusan mengejar cita-cita. Penyesalan datang terlambat memang terjadi, dan untuk saya, semua itu terjadi karena macet. Yang di maksud macet disini bukanlah antrian panjang kendaraan bermotor dengan koaran klakson kebanggaan yang mewakili perasaan sang pengemudi, tetapi macet yang seperti diartikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, yaitu tidak dapat berfungsi dengan baik. Layaknya mesin mobil yang belum di beri pelumas, pasti akan ada kemacetan disitu yang membuat tatanan sistem yang seharusnya berjalan baik menjadi ‘agak’ berantakan. ‘Agak’ disitu seringkali membengkak menjadi ‘sangat’ apabila kesalahan tersebut di biarkan terus menerus dalam tempo waktu yang lama. Saya disini merasa sudah ‘sangat’ macet dan ‘amat sangat’ terlambat.

Dalam 15 tahun perjalanan hidup saya, berbagai macam langkah yang saya ambil seringkali salah karena kemacetan dalam sistem otak saya. Saya tidak merasa selalu melangkah maju ke depan. Kadang diam saja di tempat. Atau malah mundur. Tak jarang saya terlambat satu langkah dari orang-orang di sekeliling saya. Satu langkah itu kini membengkak menjadi seratus bahkan seribu langkah saya tertinggal. Selama ini saya terlalu santai akan zaman yang bermetamorfosa secara radikal dan tanpa ampun menyisihkan manusia-manusia tolol yang tidak berguna seperti saya. Beruntung, saya masih mampu bertahan, walaupun hanya berpegangan pada sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu yang transparan, entah kapan akan patah dan menjatuhkan saya ke dalam lubang kepekatan dimana saya tidak akan melihat cahaya yang menuntun saya menuju jalan yang benar. Setidaknya, pegangan saya masih cukup kuat hingga kini.

Huft, sekarang menggerutu tidak jelas disini juga tidak akan ada gunanya. Saya sudah separuh mengubur semua impian-impian saya sekarang. Jika saya tidak segera bergegas mencari pegangan yang lebih kuat, mungkin setengah itu akan menjadi semua. Dan saya akan jatuh selama-lamanya. Mungkin, jika saya sekarang mencari montir yang tepat untuk membetulkan segala kemacetan di otak yang kacau ini, suatu saat saya akan melihat. Melihat orang lain yang menyaksikan saya sambil memakan pop corn dan bertanya-tanya dalam hati kecilnya… ‘Kapan ya bisa kayak gitu?’

Published in: on May 31, 2011 at 10:37 am  Leave a Comment  

Bukan Pintu Untuk Ditutup

Angkutan Kota. Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan kendaraan pengangkut massal beroda empat dengan berbagai macam angka, jurusan, dan warna tersebut (kecuali hidup anda dihabiskan dengan mengomeli supir anda yang hobi terlambat), bagaikan bagian yang sulit terpisahkan dari kehidupan ini. Bagaimana dengan saya sendiri? Well… sebagai pelajar, saya masih dalam fase perdebatan panjang mengenai urusan kendaraan pribadi untuk saya sendiri. Keputusan tidak memberikan motor kepada saya merupakan keputusan yang masuk akal. Tanpa motor pun saya pulang jam 6 sore tiap harinya (bahkan lebih), apalagi jika mendapatkan kendaraan roda dua itu, pasti saya tidak pulang (atau lupa jalan pulang). Begitulah yang dipikirkan oleh bunda tercinta saya.

Semenjak berseragam abu-abu, hidup saya tak lepas dari Ferrari merah bertuliskan 02, Lt. Agung-Pd. Labu saat pulang sekolah. Ya, Ferrari merah. Sepertinya memang tidak pantas disamakan secara fisik, tetapi sering kali sang pengemudi mobil tersebut merasa dirinya membawa mobil di lintasan balap. Selip kiri, selip kanan, meng-overtake (thanks NFS) pengemudi lain dan banyak tingkah mengemudi mereka yang cocok untuk menggantikan para stuntman di Hollywood sana. Sejujurnya, saya jarang merasakan adrenaline pump semacam itu saat naik angkot. Kebanyakan yang saya alami adalah menggerutu dalam hati karena terlalu lamanya waktu mengetem dan guncangan-guncangan saat menerobos polisi tidur. Sisanya, biasanya sang supir akan mengambil jalur yang hampir mustahil untuk masuk mobil dan menutupi jalan motor, atau melakukan pengereman mendadak yang membuat saya akan terbang menyentuh atap angkot tersebut. Itulah sedikit duka yang sering saya alami bila naik angkot.

Jam terbang saya dalam menaiki angkot (esp. s02) sudah bisa masuk ke dalam kategori Reguler. Karena seringnya saya menaiki angkot, terkadang saya merasa seperti deja-vu dan pernah menaiki angkot yang sama dalam kurun waktu yang berbeda. Oh iya, mengenai penggolongan penumpang angkot, berikut akan saya beberkan klasifikasi menurut saya, masuk ke manakah anda? Check this out!

a. Newbie : Sekali menaiki angkot karena sangat terpaksa. Biasanya terjadi pada anak orang kaya yang terlambat masuk karena mengalami gangguan pada mobil pribadinya dan terpaksa menaiki angkot (atau ojek, tetapi ojek di khawatirkan akan menghancurkan tatanan rambut salon mereka)

b. Amateur : Merupakan orang yang sangat plin-plan. Jika jarak tempuhnya dekat, mereka baru akan menaiki angkot. Jika jarak tempuhnya lumayan, mereka akan memilih ojek. Jika jarak tempuhnya jauh, mereka akan naik taksi. Jarak dekat mengandalkan keiritan tetapi jarak jauh menomor satukan kenyamanan. Antara pelit atau nahan, tetapi sedikit borju. Entahlah

c. Regular : Sering menaiki angkot karena agak terpaksa, minim pilihan, dan kantong yang amat sangat gersang (saya salah satunya), penumpang macam ini biasanya memilih pasrah dan menerima pilihan untuk menaiki angkot saat menjalani rutinitasnya. Seringkali mencari opsi lainnya seperti menebeng teman yang sedikit lebih beruntung untuk menduduki satu kursi di jok belakang motornya

d. Die-Hard Fans : Inilah manusia-manusia yang menganggap angkot itu pengganti kebutuhan sekunder mereka akan kendaraan. Jarang memikirkan hal-hal mengenai rencana mengkredit motor atau mencoba busway rute baru, lebih memilih hari-hari biasa bersama angkot yang mereka pilih. Tidak ada keberatan hati bagi mereka, sangat bersuka cita dalam menaiki dan menuruni angkot

Nah! Masuk golongan manakah anda? Jika masuk ke Newbie, sesekali cobalah menaiki angkot. Karena menurut saya, konspirasi alam akan membuat kita menemukan hal-hal baru dalam hidup anda saat menaiki angkot. Bisa jadi, anda menemukan belahan jiwa (atau pantat? Garing *kriuk*) di dalam angkot. Belum lagi sensasi beradu dengkul dengan orang lain saat angkot penuh (buat yang berdengkul kopong, berbahagialah kita jarang kalah! buat yang berotak di dengkul, lebih baik jangan naik angkot daripada otak anda gegar. Atau gunakan helm dengkul(emang ada?)) itu lumayan menyenangkan kok. Anda juga akan melihat berbagai macam manusia yang naik dan turun dari angkot. Melihat dari luarnya memang cara menilai paling tidak adil di dunia ini. Bayangkan, jika di dalam angkot ada menteri yang menyamar jadi gelandangan, bukan mustahil untuk di tolak oleh sang supir. Hey, padahal dia menteri loh. Memang mata adalah juri terburuk saat menilai orang lain. Ada seribu pertanyaan yang saya fikirkan mengenai orang-orang yang saya jumpai di angkot. Lewat penampilan, saat kita cermati dengan seksama, baju dan celana yang mereka kenakan bisa menjadi teman berargumen yang asyik. Kita bisa tahu apa yang biasa mereka lakukan hanya dari pakaiannya. Sangat menarik.

Pernah suatu hari, saya cukup beruntung mendapatkan angkot modifikasi lengkap dengan televisi di dalamnya dan audio system ter dahsyat (bahkan mobil saya kalah jauh), juga kumpulan botol-botol miras (Chivas Regal dan Mix-Max seingat saya) lengkap dengan jok yang dilapisi kulit, membuat saya betah di dalamnya. Inilah angkot yang seharusnya di perbanyak di Jakarta. Sangat mengesalkan apabila mendapat angkot berkarat dengan jok yang bolong-bolong. Rasanya pengen cepet-cepet sampe tujuan aja deh.

Hal yang paling saya benci saat menaiki angkot adalah saat ramai. Sumpah itu bener-bener ngeselin. Siapa sih yang mau di dempet-dempet orang yang ga di kenal. Syukur-syukur di pepetin cewek cantik nan semok. Lah kalo nenek-nenek bawa sayuran? Atau mas-mas gendut yang kerjaannya ngerokok? Bikin gondok segede telor gajah aja itu sih. Belum lagi ada kelompok musisi yang mengapresiasi karya seni terlewat tinggi, seenaknya mengganti lagu religi penuh makna dengan lagu metal yang agak-agak dipaksakan sehingga terdengar seperti pekerjaan konstruksi tepat di kuping saya. Pusing.

Saat menjumpai seseorang, yang paling menarik bagi  saya adalah ketika melihat orang yang bermuka masam menaiki angkot. Atau orang yang langkah nya gontai saat menaiki atau menuruni angkot. Model-model seperti inilah yang paling menarik untuk di telusuri. Pasti sedang ada yang tidak beres dengan kehidupannya, tapi apa? kenapa? bagaimana? itulah yang muncul di benak saya saat melihat orang-orang macam ini. Mereka mungkin mengetahui mereka sedang berada di bawah. Untuk mereka di bukakan pintu yang tidak pernah tertutup saat pintu lainnya tertutup bagi mereka. Pintu, yang dengan suka cita menerima mereka bukan dari penampilan, barang bawaan, raut wajah, dan lainnya, melainkan dari tujuan apa yang hendak mereka capai melalui mobil ini. Mungkin, pintu ini lebih canggih dari pintu kemana saja milik Doraemon. Karena pintu ini memang tidak di maksudkan untuk tertutup…

Published in: on May 18, 2011 at 7:13 am  Leave a Comment  

Intro

Saya hanyalah pelajar gadungan yang bingung akan jati diri sendiri yang menghilang di tiup kerasnya pergaulan di pinggiran Jakarta. Perkenalkan, saya Muhammad Krisna Bagustama, pelajar kelas sepuluh menuju sebelas IPA atau IPS (yang penting naik), biasa di panggil Kibo. Tulisan-tulisan di atas merupakan pengalaman dan pandangan saya akan kejadian-kejadian seru yang terjadi selama 15 tahun saya bernafas di muka bumi ini. Selamat menikmati.

Published in: on May 18, 2011 at 6:30 am  Leave a Comment  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.